Refleksi Demokrasi

Pilkada Jawa Timur sudah dilaksanakan 4 Noember lalu. Menurut perhitungan KPUD, pasangan Soekarwo-Saifullah yusuf (KARSA) unggul dengan selisih haya 0,4 % dari rivalnya, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (KAJI). Pilkada Jatim menjadi sorotan seluruh masyarakat Indonesia, karena di Jatimlah jumlah pemilih paling besar. Selain itu, Pilkada Jatim paling menyedot energi para elite partai-partai pendukung pasangan yang bertarung. Hasil dari “battle for the first” Jatim sangat ditunggu-tunggu, karena diyakini Jatim adalah daerah pendulangan suara terbesar untuk kepentingan Pemilu April 2009 nanti.

Namun, seperti kebanyakan daerah-daerah lain di Indonesia, hasil penghitungan KPUD Jatim ini tidak serta merta diterima oleh kubu yang kalah. Saat ini, kubu KAJI sedang mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk mengadakan pemilihan ulang di beberapa daerah yang sudah dilaksanakan, serta mengadukan kecurangan-kecurangan yang ‘konon’ dilakukan kubu KARSA. Yang lebih seru, kubu KARSA juga melakukan gugatan balik kepada kubu KAJI dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Harus Belajar Lagi

Barangkali kita –bangsa Indonesia- sekali lagi dipaksa harus belajar bagaimana menerima kekalahan dan dengan gentle mengakui kelebihan lawan. Masih hangat di ingatan kita, pada tanggal, bulan, dan tahun yang sama, negara adidaya Amerika Serikat juga melangsungkan Pemilu presiden. Duel McCain versus Obama yang didengung-dengungkan akan berjalan panas (mungkin karena Obama adalah capres terkuat dari kulit hitam pertama), akhirnya dimenangkan Barack Hussein Obama yang pernah menghabiskan 4 tahun masa kecilnya di Menteng.

Walaupun sistem pemilihannya berbeda, namun esensi dari dua hajatan politik tersebut sama : memilih pemimpin baru. Duel itu memang seru, panas, dan penuh intrik, namun endingnya begitu happy. Tidak ada gugat-menggugat, tidak ada demonstrasi, dan tidak ada kerusuhan. Obaa=ma menyampaikan pidato kemenangan disaksikan ratusan ribu pendukungnya dengan memuji rivalnya, McCain, sebagai pahlawan Amerika yang gigih. Sementara pihak yang kalah, John McCain, dengan gentle mengakui kekalahan dan memuji Obama sebagai sosok yang tangguh dan idola masyarakat Amerika. Sungguh damai, anggun, dan elegan.

Kita seharusnya merasa malu karena selalu tidak dapat menerima kelebihan orang lain. Pemilu Amerika telah memberikan hikmah kepada kita bahwa betapapun pahit hasil pemilihan bagi kita, seharusnya kita menghargai dan mematuhi kaidah dan hasil pemilihan yang sudah dilaksanakan sesuai prosedur.

~ oleh lorddavor pada November 18, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: