Pemilu dan Topeng Monyet

Pemilu dan Topeng Monyet

sweety aya

Saat saya berada dalam bis yang membawa saya dari Tulungagung ke Surabaya, di sepanjang jalan yang saya lalui, banyak sekali terpampang wajah-wajah yang mempromosikan dirinya sebagai caleg dari berbagai parpol. Ada yang berukuran kecil, sedang, besar, dan besaaaar sekali. Ada yang ‘memajang’ wajahnya

sendiri hanya ditemani logo partainya, ada pula yang ‘ditemani’ oleh –entahlah, apa itu eyangnya, bapaknya, mertuanya, atau nggak tahu apanya. Yang jelas, sang ‘teman’ senantiasa ada di belakang foto si caleg, bahkan kadang foto si caleg ukurannya lebih kecil. Lucu ya hehehe…

Mungkin kita

semua juga tahu, wabah ini sekarang seolah menjadi wabah yang datang periodik lima tahunan, yakni menjelang pemilu legislatif tiba. Dan bulan-bulan menjelang Pemilu menjelang, gambar-gambar itu akan muncul lebih banyak, lebih besar, dan makin menggila. Kadang ada pertanyaan dalam hati saya: banyak bener ya uang orang-orang itu…membuat dan membayar gambar-gambar itu kan nggak murah, ‘tul nggak? Yang saya tahu, untuk pesan spanduk indoor dari kain kasar aja, kita mesti membayar 12.500 rupiah per meter. Lha ini, udah bahannya dari sintetis, tintanya tahan air lagi…

Terlepas dari itu semua, nilai yang mesti kita lihat adalah siapa orang-orang yang ‘tiba-tiba’ muncul di pinggir-pinggir jalan, di pos-pos kamling, atau di tembok-tembok bangunan yang mau roboh itu? Kalau kita sudah kenal, pertanyaan berikutnya adalah apa yang mereka bawa untuk menjadi wakil rakyat ? apakah mereka memang benar-benar tulus berniat mensejahterakan rakyat ? Kita tentu masih ingat lima tahun lalu hal serupa juga pernah terjadi. Kita sekan dipaksa memilih salah satu dari mereka, sementara kita sendiri nggak tahu siapa dan dari mana mereka, apa visi dan misi mereka, dan mampukah (atau lebih tepatnya tuluskah) mereka mensejahterakan kita?

Ironis memang, kita sebagai rakyat kecil hanya kebagian memilih dan mengantarkan mereka duduk di kursi dewan yang –konon katanya- terhormat itu. Kita tidak tahu bagaimanakah sebenarnya kinerja dan kiprah mereka di lembaga legislatif, sudah benar-benarkah mereka memperjuangkan nasib kita ? Sementara pertanyaan itu masih belum terjawab tuntas, sudah keburu dating masa ‘kewajiban’ kita untuk memilih mereka lagi. Ya….nasib…nasib…dadi wing cilik pancen ora penak, isone mung dadi sikil, ora bakal bisa dadi sirah..

Berkaca dari pengalaman-pengalaman itu, marilah mulai saat ini kita jadikan momentum untuk berubah; melihat calon yang akan mewakili kita lebih teliti dan cermat, memilih dengan yakin bukan berdasarkan uang yang mereka berikan, dan mengawasi dengan sungguh-sungguh kinerja mereka sejak hari pertama mereka bertugas. Mereka adalah penyambung lidah kita, bukan penyambung lidah partai. Mereka adalah pejuang nasib kita, bukan pejuang golongannya sendiri. Mari berjuang, Saudaraku !!!

~ oleh lorddavor pada November 26, 2008.

2 Tanggapan to “Pemilu dan Topeng Monyet”

  1. Kenapa dikatakan Topeng Monyet??
    Munculnya caleg-caleg itu memanglah hanya sepintas lalu, meramaikan pertunjukan raya pemilu yang biasanya menjadi ajang penokohan seseorang untuk diunggulkan dan ditampilkan kepada masyarakat.
    Instant figuring..
    Lantas bagaimana dengan suara orang awam? Terpaksa membeli kucing dalam karung? Or just let it gone? Which one is better?
    Benarlah apa yang dibilang saudara Didik, melihat lebih dalam.. Membuka karung untuk melihat bagaimana kucing yang akan kita pilih, membuka topeng-topeng untuk tahu tingkat kelayakan monyetnya..
    Jadi meskipun terpaksa memilih kucing atau monyet, tapi setidaknya kita tahu bagaimana perangainya, kinerja dan track recordnya selama ini, sebagai pijakan untuk melangkah ke depan..
    Untuk masyarakat, untuk rakyat, dan untuk bangsa INDONESIA!!!

  2. sistem pemilu kita emang msh jauh dr harapan. pgnnya para caleg tdk m’jadikan kursi dewan sbg “profesi” dan ladang cari duit, tp krn panggilan utk membangun negeri. shg ntar g ada lg anggota dewan yg kaya mendadak ato jadi new millionaire. tp appresiate buat MK yg bikin keptsan caleg g berdsr no urut..btw thx 4 comment..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: