Refleksi 2008

Refleksi 2008

Tahun 2008 telah menggoreskan sejarahnya. Selama 366 hari yang telah dilaluinya, menyisakan banyak guratan dalam setiap lembaran harinya. Ada guratan kebahagiaan, kegembiraan, dan sukacita. Tapi tidak sedikit pula lembaran-lembaran 2008 berisi guratan kesedihan, kepahitan, dan kepedihan. Masing-masing orang memiliki lembaran nasibnya sendiri-sendiri, baik itu yang gembira maupun yang sedih, yang sukses maupun yang gagal.

Kondisi Negara kita tercinta pun penuh warna dan dinamika. Banyak kesuksesan yang diraih, namun tidak sedikit pula kegagalan dan keterpurukan yang terjadi.

Ekonomi

Kondisi ekonomi di tahun 2008 ini adalah kondisi yang paling buruk di masa kepemimpinan SBY-JK. Harga BBM yang terus merangkak (walaupun sekarang turun jadi Rp. 4.500 sekarang), harga-harga kebutuhan pokok yang terus membubung tinggi, dan masalah klasik : sulitnya mendapatkan pekerjaan, seolah menjadi warna yang dominan sepanjang tahun ini. Sebagian besar masyarakat kita masih saja sulit memperoleh penghasilan untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasarnya : sandang, pangan, papan.

Sulitnya mendapatkan penghasilan yang layak telah mendorong masyarakat di daerah untuk berbondong-bondong menjejali perkotaan, sebuah masalah baru yang sebetulnya rawan menjadi bahaya laten bagi negeri ini. Sampai hari ini masyarakat kita masih susah mendapatkan minyak tanah (walaupun harganya sudah diluar batas kewajaran). Yang ajaib, setelah dikonversi menjadi elpiji pun, masyarakat tetap kesulitan mendapatkan elpiji walau dengan harga yang juga tidak masuk akal sekalipun (udah mahal, langka lagi…). Barangkali untuk aspek ekonomi ini, pemerintah kita layak dibrikan rapor merah.

Pendidikan

Kita barangkali sedikit lega dengan digratiskannya biaya SPP untuk siswa SD dan SMP melalui adanya program BOS. Kita juga boleh tersenyum dengan adanya program rehabilitasi gedung dan fasilitas sekolah melalui DAK (Dana Alokasi Khusus). Namun kita juga sedih manakala banyak kita jumpai masih adanya pungutan-pungutan di sekolah yang diembel-embeli iuran, sumbangan, bla..bla…bla… yang intinya tiap wali murid mesti mengeluarkan biaya untuk anaknya. Ironisnya, besarnya iuran itu sama atau bahkan kadang melebihi biaya SPP yang semestinya.

Demikian juga dengan DAK yang semestinya diperuntukkan bagi perbaikan kondisi fisik sekolah. Masih banyak oknum tidak bertanggung jawab yang mencari keuntungan dari dana tersebut. Sungguh kejam dan biadab !!! Sementara di belahan lain negeri ini, kita disuguhi pemandangan miris : banyak gedung sekolah yang menunggu giliran ambruk ! Bahkan, sudah ada yang memakan korban jiwa ! Ada juga sekolah yang bercampur dengan kandang kambing….Sungguh sebuah ironi !

Satu pertanyaan yang barangkali sering kita ajukan : siapa yang bertanggung jawab atas semua ini ? Banyak orang akan mengajukan jawaban ini : PEMERINTAH. Pemerintah selalu jadi kambing hitam atas setiap kegagalan dan keterpurukan yang terjadi di negeri ini. Argumennya lumayan logis; karena pemerintah adalah pembuat kebijakan yeng menentukan arah bangsa ini, yang membuat peraturan untuk menentukan apakah ini boleh atau tidak boleh. Nampaknya kita harus lebih banyak merenung lagi, agar hal ini tidak pernah terjadi lagi…

~ oleh lorddavor pada Desember 23, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: