Tentang HMI

HMI SN, Nasibmu Kini……(Bagian 2)

Kondisi HMI SN di penghujung 2008 ini memang masih cenderung status quo, tidak ada perubahan yang signifikan mengenai intensitas kegiatan. Yang paling menonjol mungkin dilaksanakannya Basic Training Komisariat Perkapalan pada minggu ketiga Desember. Selebihnya, barangkali itu yang menjadi pertanyaan besar bagi saya : mampukah HMI SN kembali pada masa kejayaannya, pada maqom yang seharusnya ?

Sekedar catatan (dan barangkali romantisme masa lalu hehehe…), HMI SN sudah pernah melalui fase keterpurukan seperti saat ini. Pada era awal 90-an, HMI SN pernah mengalami kelesuan ketika sudah mencapai puncak kejayaan pada era 80-an. Pada era 80-an, HMI SN telah melahirkan kader-kader terbaik macam Prof. Widi Agus Pratikto, Prof. Achmad Jazidie, Prof. Mohammad Nuh, Dr. Daniel M. Rosyid, dan nama-nama beken lain yang seolah-olah menjadi dominator di bidangnya. Meski HMI SN tidak pernah berhenti melahirkan kader-kader terbaik, tapi pada era 90-an memang tidak sedahsyat kader 80-an (maaf banget….). Barangkali saya terlalu naïf, karena mereka yang lahir dari era 90-an itu sekarang masih bermetamorfosa dan punya kesempatan yang masih panjang….

Di era 2000-an ini (saya juga dong…), saya menilai masih jauh dari seperti yang diharapkan Lafran Pane ketika mendeklarasikan HMI pada 1947. Kader akademis yang diharapkan, barangkali hanya poin itu yang terpenuhi, tapi poin pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, bla..bla…bla ? Saya kira masih seperti jauh api dari panggang.

Mengapa Bisa Terjadi ?

Kalau kita urai lebih lanjut, ada beberapa variabel yang barangkali jadi ‘biang kerok’ permasalahan ini :

Pertama, kurikulum perkuliahan yang makin mempersempit kesempatan mahasiswa beraktivitas di luar kegiatan akademis. Hal ini semakin memangkas waktu para aktivis untuk beraksi di organisasi ekstra kampus, termasuk aktivis HMI.

Kedua, kurikulum perkaderan di HMI harus segera dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan dunia kemahasiswaan dewasa ini. Yng dimaksud kurikulum disini bukan materi training di HMI saja, tetapi pola dan metode training dan perkaderan secara keseluruhan. Saya menengarai ada “kejenuhan” dalam perkaderan di HMI.

Ketiga, kedekatan dan interaksi antar kader HMI dan alumni. Silaturrahim yang selama ini menjadi kunci keselarasan hubungan antar generasi sepertinya semakin berkurang. Inisiatif silaturrahim mestinya lebih banyak diambil oleh kader yang masih aktif di kepengurusan saat ini.

Momentum Itu Harus Diciptakan

Sebagai organisasi kader, menjadi suatu keniscayaan bagi HMI SN untuk segera berbenah. Keberadaan dan ketersediaan kader –tidak hanya banyak kuantitasnya tetapi juga kualitasnya-, adalah jaminan mutlak kelangsungan hidup himpunan. Dalam kondisi yang sulit seperti sekarang ini, justru harus dijadikan tantangan bagi kader untuk menciptakan momentum kebangkitan HMI SN. Tidak perlu sibuk mencari alas an atau kambing hitam, tetapi masing-masing kader harus berdiri di depan cermin besar untuk menelusuri diri masing-masing dan berteriak: ”apa yang sudah saya berikan untuk himpunan ?”.

Tidak ada organisasi yang besar jika organ-organnya tidak mampu menciptakan momentum kebangkitannya sendiri. Momentum itu harus diciptakan, Kawan ! Yakin Usaha Sampai !

~ oleh lorddavor pada Desember 23, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: